22 December – Mother’s day and Having Tangyuan

For everyone’s comfort, maybe I should start to write in English. First of all, please forgive the grammatical errors.. πŸ™‚
Now I will write about 22nd December. In Indonesia particularly, 22nd December is celebrated as Mother’s day. The only day of the year that is dedicated to all the mothers..
While for the Chinese, 22nd December often celebrated as Winter Festival/Dong Zhi.
Dong Zhi is usually celebrated by having Tangyuan.
Maybe some of you are confused about what is Tangyuan, well it’s a traditional chinese food made from glutinous rice flour that is formed into balls and served in a kind of soup (can be sugar water or ginger water). It can be filled with peanut, fruit pasta, or else. In Indonesia is called onde-onde or ronde.
As a Chinese descent Indonesian, 22nd December for me is all about eating Tangyuan. My family make and eat it every year as a tradition. Here is the picture from this year πŸ˜‰
It’s look delicious, isn’t it? πŸ˜€
I personally like this food, especially the one with the peanut filling and sugar water.. Yummy..
In Indonesia you can find it anywhere from roadside to mall. It has been modernized with varieties of filling. In Bandung especially it can be found at Gardujati area..

You should try some.. ^^

DIFFERENT CITY, DIFFERENT WEDDING PARTY

Well, malem minggu nih gw pergi ke resepsi pernikahan. Meskipun ujan-ujan pergi juga.. *niat.. haha.
This is my first time going to a wedding party without my parents, and instead going with my boyfriend.
Ini juga pertama kali gw pergi ke resepsi pernikahan selaen di Jambi (my hometown).
Eniwei, yang gw mau share adalah gw menemukan beberapa perbedaan (budaya) antara resepsi pernikahan di Bandung (Jawa umumnya) dengan resepsi pernikahan di Jambi. Khususnya resepsi pernikahanΒ  Tionghoa dengan sistem makan di meja / sitting dinner/ cia ciu.
Mungkin beda restoran juga beda adatnya sih, tapi yah inilah yg gw temukan:
1. Pembawa acaranya pake bahasa Indonesia. Fyi, kalo di Jambi tuh pembawa acaranya biasa pake bahasa Mandarin, atau dialek China lainnya. Jadi, bahasa Indo cuma dikit digunainnya.Β 
Yah inilah yang nunjukin banget bedanya kehidupan masyarakat Tionghoa di Jambi (sumatra) dan di Bandung (Jawa). Kalo di Sumatra masih banyak bahasa Mandarin dan dialek2 laen yang digunakan, kalo di Jawa tinggal dikit yang bisa dan jarang dipake.
2. Pembawa acaranya ga lucu!! Ga tau yah ini sebenernya sih tergantung yang punya acaranya. Tapi kan pada umumnya kalo di Jambi pembawa acaranya tuh humoris jadi acaranya lebih hidup. wkwkwk.
3. Minumnya teh tawar… Zzzzzz… Kalo di Jambi minumnya minuman kaleng beraneka macam dan ada bir juga. Kirain awalnya doank pas makanan belum dateng minum teh tawar dulu, taunya smpe pulang teh lagi…
4. PenyanyinyaΒ  merangkap pembawa acara dan ada penyanyi satu lagi ganti2an. Beda banget kalo di Jambi kan penyanyinya dari tamu yang hadir jadi karaoke. Dengan karaoke gini sih menurut gw lebih rame lebih akrab.. En lagu yang dinyanyiin bahasa Inggris semua(mending sih daripada bahasa Indo.. haha. Tp gw prefer Mandarin sebagai cara untuk melestarikan budaya juga)
5. Pengantinnya ga nganterin tamu pulang dengan baris di pintu masuk.. Di Jambi sih kalo udah selesai acara, pengantinnya dan keluarga baris di pintu masuk terus tamunya pulangnya berbaris nyalamin pengantin. Kalo di Bandung tamu mau pulang ya pulang aja paling pamitan sekedarnya sama pengantin.
6.Β  Acaranya cuma 2 jam (18.oo -20.oo)??Cepet bangeeeet…
Kalo di Jambi sih acaranya di undangan mulai 17.00 dan pulangnya bisa ampe jam 21.30..
Kayaknya itu aja, ga apa2 postnya ga penting.. yang penting eksis.. :p hahahaha.