Japan Babymoon Trip : Preparation (part 1/4)

Akhirnya jalan-jalan ke Jepang kesampean juga! Saya udah pengen ke Jepang dari 2 atau 3 tahun lalu, karena udah hits banget di instagram kan. Karena satu dan lain hal akhirnya puji Tuhan kesampean juga berangkatnya di tahun 2018. Walaupun akhirnya sambil babymoon ga masalah sih, ga mengurangi keseruan jalan-jalannya juga 😁

Total lamanya kami (saya, suami dan 6 orang teman) di Jepang adalah 9 hari 9 malam. Destinasinya banyak, itinerary padat (akan saya sambung di next post). Untuk post ini akan membahas hal-hal apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum berangkat πŸ’ͺ

✈ Tiket pesawat
Yang pertama dibeli adalah tiket pesawat. Kami beli tiket pesawat dari 6 bulan sebelum berangkat waktu ada travel fair. Dengan maskapai Jepang, All Nippon Airways (ANA), penerbangan kurleb 7 jam ga pake transit (penting!) dapet harga pp 4.3 juta setelah dipotong cashback kartu kredit. Sebenernya harga ini masih kurang murah menurut saya, karena waktu travel fair Cathay Pasific harga yang ditawarkan adalah pp 3.9 juta setelah dipotong cashback kartu kredit. Sekarang emang promo2 travel fair gitu yang bikin murah cashback sih. Nah repotnya yang Cathay Pasific itu dalam sehari kuota cashback dibatasi jadi kalau mau kebagian kudu antri dari subuh. Hmm. Saat itu saya ga jadi ikut antri karena lagi sibuk prepare wedding. Haha. Kalau mau lebih murah lagi bisa cari promo Air Asia, pp 2.7 juta saja, tapi harus transit, belum termasuk bagasi, dan makan harus tambah biaya lagi.

πŸ““ Visa
Untuk mengurus visa paling pas sekitar 1-2 bulan sebelumnya, karena masa berlaku visa hanya sekitar 3 bulan. Karena saya udah punya e-passport, jadi ga perlu urus visa lagi, tapi tetep perlu bikin visa waiver. Gampang banget prosesnya, kalau mau gratis bikinnya di kedutaan (sebelah plaza Indonesia), kalau di Japan Visa Application Center (di Lotte Avenue lt.4) dikenakan biaya sekitar 150rb kalau ga salah. Saya waktu itu datang ke kedutaan cuma serahin paspor sama form (bisa didonlod terus print sendiri bisa juga isi disana disediakan) terus ditinggal, besoknya saya balik lagi paspor saya sudah siap ada stiker visa waiver. Total serahin dan ambil ga sampe 5 menit di kedutaan karena sepi.
Kalau suami saya punyanya paspor biasa, akhirnya terpaksa urus visa di Japan Visa Application Center (bikin visa cuma bisa disini ga bisa di kedutaan lagi). Prosesnya juga gampang, cuma lebih banyak berkas2 yang harus disiapkan dan dikenakan biaya 300an ribu plus administrasi. Saya ga inget persisnya berapa karena bukan saya yang bayar πŸ˜†

Untuk lebih detil bisa cek website JVAC berikut.

Seinget saya berkas yang diperlukan adalah KTP, KK,Pasfoto (standar khusus visa Jepang), itinerary, fotokopi rekening koran 3 bln terakhir, dan isi form yang disediakan. Proses di JVAC juga tidak lama, maksimal 1jam mulai dari antri untuk diperiksa berkas sebelum masuk, kemudian masuk ambil nomor antrian dan menunggu dipanggil, setelah dipanggil serahkan berkas dan wawancara di loket, kemudian pindah ke loket untuk pembayaran, selesai deh. Prosesnya 3-4 hari kerja sebelum paspor siap diambil lagi.

Continue reading

Advertisements

22 December – Mother’s day and Having Tangyuan

For everyone’s comfort, maybe I should start to write in English. First of all, please forgive the grammatical errors.. πŸ™‚
Now I will write about 22nd December. In Indonesia particularly, 22nd December is celebrated as Mother’s day. The only day of the year that is dedicated to all the mothers..
While for the Chinese, 22nd December often celebrated as Winter Festival/Dong Zhi.
Dong Zhi is usually celebrated by having Tangyuan.
Maybe some of you are confused about what is Tangyuan, well it’s a traditional chinese food made from glutinous rice flour that is formed into balls and served in a kind of soup (can be sugar water or ginger water). It can be filled with peanut, fruit pasta, or else. In Indonesia is called onde-onde or ronde.
As a Chinese descent Indonesian, 22nd December for me is all about eating Tangyuan. My family make and eat it every year as a tradition. Here is the picture from this year πŸ˜‰
It’s look delicious, isn’t it? πŸ˜€
I personally like this food, especially the one with the peanut filling and sugar water.. Yummy..
In Indonesia you can find it anywhere from roadside to mall. It has been modernized with varieties of filling. In Bandung especially it can be found at Gardujati area..

You should try some.. ^^

DIFFERENT CITY, DIFFERENT WEDDING PARTY

Well, malem minggu nih gw pergi ke resepsi pernikahan. Meskipun ujan-ujan pergi juga.. *niat.. haha.
This is my first time going to a wedding party without my parents, and instead going with my boyfriend.
Ini juga pertama kali gw pergi ke resepsi pernikahan selaen di Jambi (my hometown).
Eniwei, yang gw mau share adalah gw menemukan beberapa perbedaan (budaya) antara resepsi pernikahan di Bandung (Jawa umumnya) dengan resepsi pernikahan di Jambi. Khususnya resepsi pernikahanΒ  Tionghoa dengan sistem makan di meja / sitting dinner/ cia ciu.
Mungkin beda restoran juga beda adatnya sih, tapi yah inilah yg gw temukan:
1. Pembawa acaranya pake bahasa Indonesia. Fyi, kalo di Jambi tuh pembawa acaranya biasa pake bahasa Mandarin, atau dialek China lainnya. Jadi, bahasa Indo cuma dikit digunainnya.Β 
Yah inilah yang nunjukin banget bedanya kehidupan masyarakat Tionghoa di Jambi (sumatra) dan di Bandung (Jawa). Kalo di Sumatra masih banyak bahasa Mandarin dan dialek2 laen yang digunakan, kalo di Jawa tinggal dikit yang bisa dan jarang dipake.
2. Pembawa acaranya ga lucu!! Ga tau yah ini sebenernya sih tergantung yang punya acaranya. Tapi kan pada umumnya kalo di Jambi pembawa acaranya tuh humoris jadi acaranya lebih hidup. wkwkwk.
3. Minumnya teh tawar… Zzzzzz… Kalo di Jambi minumnya minuman kaleng beraneka macam dan ada bir juga. Kirain awalnya doank pas makanan belum dateng minum teh tawar dulu, taunya smpe pulang teh lagi…
4. PenyanyinyaΒ  merangkap pembawa acara dan ada penyanyi satu lagi ganti2an. Beda banget kalo di Jambi kan penyanyinya dari tamu yang hadir jadi karaoke. Dengan karaoke gini sih menurut gw lebih rame lebih akrab.. En lagu yang dinyanyiin bahasa Inggris semua(mending sih daripada bahasa Indo.. haha. Tp gw prefer Mandarin sebagai cara untuk melestarikan budaya juga)
5. Pengantinnya ga nganterin tamu pulang dengan baris di pintu masuk.. Di Jambi sih kalo udah selesai acara, pengantinnya dan keluarga baris di pintu masuk terus tamunya pulangnya berbaris nyalamin pengantin. Kalo di Bandung tamu mau pulang ya pulang aja paling pamitan sekedarnya sama pengantin.
6.Β  Acaranya cuma 2 jam (18.oo -20.oo)??Cepet bangeeeet…
Kalo di Jambi sih acaranya di undangan mulai 17.00 dan pulangnya bisa ampe jam 21.30..
Kayaknya itu aja, ga apa2 postnya ga penting.. yang penting eksis.. :p hahahaha.