Operasi Gigi Bungsu Kedua Kali (Bagian 2-Akhir)

Ternyata gw bener-bener lupa operasi gigi yang pertama gimana rasanya. Gw cuma ingat mulut gw mati rasa, sembari dokternya narik-narik gigi gw berusaha nyabut. Gw juga ingat gusinya masih berdarah selama beberapa jam setelah operasi.

Tapi setelah gw jalani operasi gigi yang kedua ini, gw baru tersadar. Man, how come I forget how does it feel? Gimana gw bisa lupa rasanya dibius di gusi.

Kali ini gigi gw yang mau dibuang ada 2. As I said before, gigi bungsu kiri bawah harus dibuang karena tidak tumbuh full, sedangkan gigi bungsu kiri atas yang tumbuh normal pun harus ikut dibuang karena bawahnya dibuang. Ga ada pasangannya, jadi ga ada gunanya dipertahankan.

Untuk gigi kiri bawah dioperasi, sedangkan gigi kiri atas dicabut biasa, tapi disebutnya cabut komplikasi. Ternyata cabutnya pun harus pake bius. Total gw dibius dengan cara DISUNTIK sebanyak empat atau lima kali. Gw ga inget jumlahnya, gw cuma inget rasa sakitnya. Sampai-sampai gw berdoa, Tuhan, tolong ini terakhir kalinya gw dioperasi apapun. Amin.

Yup, operasi gigi tuh biusnya dengan DISUNTIK. Di gusi. Di dinding mulut. Menusuk sampai ke jiwa. Lebay.

Oke, operasi kali ini entah kenapa bikin gw banyak recall memory. Dulu, waktu masih anak-anak, pertama kali gw ke dokter gigi buat cabut gigi dokternya pakai cara suntik bius juga. Waktu itu umur gw sekitar 6 tahun, dan menurut nyokap sejak saat itu gw jadi takut ke dokter gigi. Entah ya kenapa dokter itu melakukan suntik bius kepada anak-anak. Padahal setelahnya gw cabut gigi di dokter gigi lain bisa kok ga disuntik, cuma ditempel yang dingin-dingin gitu sampai gusinya mati rasa.

Btw untuk operasi gigi ga ada teknologinya kah yang memungkinkan dibius tanpa suntik?

Ga enaknya dokter gigi yang gw dapatkan waktu di RS Tzu Chi PIK adalah, menurut gw dokternya terlalu meremehkan operasi ini. Dokternya sambil bercanda ngobrol-ngobrol sama susternya, yang jadi ga fokus. Akibatnya waktu ekstraksi gigi gw akarnya patah, tertinggal, tambah lama lah prosesnya. Dokternya susah payah narik-narik akar yang tertinggal. *judul lagu baru : Akar Yang Tertinggal * *apa sih*

Nyebelinnya lagi, susternya keliling-keliling ruang praktek nyari alat apa gitu -yang diperlukan untuk operasi gigi gw- sambil nanya-nanya ke suster lain tapi ga ada yang tau.

Ruang prakteknya sebenarnya ukurannya besar, tapi disekat-sekat dengan partisi kain, jadi dalam 1 ruangan ada 3 tempat praktek.

Akibat susternya keliling-keliling itu, ludah gw terbengkalai ga disedot. Dokternya juga aneh, emangnya bisa kerja? Emangnya keliatan gitu ngerjain gigi kalau mulut gw dipenuhi ludah+darah? Gw berasa banget mulut gw penuh, dan karena ga bisa nelan, gw sampai ehem ehem dan pegang-pegang leher, baru dokternya nanya kenapa. Ya elah, mau ngomong juga susah kali, gw akhirnya jawab, keselek.

Sang dokter cuma jawab, oh, keselek. OH, KESELEK. Oh doank! Disedot kek dok ludahnya!

Habis selesai operasi gw dikasih gigit kapas sementara mulut gw masih berasa penuh ludah+darah. Terpaksa gw telan. Damn.

Bekas operasinya ga dijahit, karena katanya kalau dijahit minggu depannya harus balik lagi buat buka jahitan. Gw sih ga keberatan balik lagi, tapi dokternya yang keberatan kali, atau kemalasan. Ups. Gw pun diberi wejangan sama susternya post op ga boleh meludah, kumur2, makan pedas, dsb yang tertulis di secarik kertas.

Seperti yang gw bilang sebelumnya, kesan gw dokternya ga serius, antara meremehkan karena ini udah kerjaan sehari-hari, atau meremehkan karena ini RS murah jadi treatmentnya beda.

Keluar dari ruangan lanjut proses pembayaran dan ambil obat, total gw kena 1.5 juta. Oh ya, jadi operasinya ada dua kelas, kelas I dan kelas II. Waktu susternya catat administrasi sih sempet tanya ke dokternya, menurut dokternya gw kelas II. Gw kira yang kelas II yang lebih murah, eh ternyata yang lebih mahal. Kecele.

Kelas II 1.1 juta.

Cabut Komplikasi 250 ribu

Ditambah obat dll jadilah 1.5 juta.

Karena gw udah pernah operasi sebelumnya, gw jadi banyak membandingkan operasi yang pertama dan yang sekarang. Sekalian gw kasih tips deh yah. Kalau operasi yang pertama jauh lebih enak karena timing operasinya pas, yaitu setelah makan siang. Habis operasi kan masih banyak berdarah, jadi susah kalau mau makan. Kali ini gw merasakan, sambil makan sambil ngerasa darah. Ga banget.

Lagipula, kalau udah makan dulu jadi setelah operasi langsung minum obat. Kalau yang kali ini di perjalanan pulang aja gw udah merasakan sakit, karena letak RS yang cukup jauh dari kos gw, di perjalanan biusnya berangsur menghilang. Muncullah sakit yang menyengat. Udah sampai kos ga bisa minum obat karena belum makan. Mau makan masih banyak darah jadi nunggu darahnya ga terlalu banyak. Serba salah.

Sebenarnya setelah operasi susternya sempat tanya, mau dikasih obat yang lewat pantat ga. Gw refleks menolak. Karena belum pernah, dan ga mau mengalami. Haha.

Gw sempet browsing juga karena khawatir darahnya lama banget ga berhenti-berhenti, apa yang harus dilakukan pasca operasi, dsb. Ternyata ga boleh makan yang keras, minum dengan sedotan, dan makan minum panas/dingin. Sedangkan darahnya kalau ga berhenti dalam 24 jam baru hubungi dokter. Untungnya sekitar 6 jam kemudian gw coba buka kapas udah ga terlalu berdarah lagi. Yang perlu diingat yaitu harus tetap gosok gigi meskipun pelan-pelan.

RS Tzu Chi ini dulunya klinik, jadi gedungnya ga terlalu besar cuma 2 lantai. Lantai 1 area rawat jalan dan lantai 1 area rawat inap. Lokasinya dalam kompleks, di sebelah sekolah Tzu Chi. Masuk pintu utama, ada pendaftaran di kanan, di kiri ada satpam/informasi/nomor antrian. Kalau pertama datang akan dikasih form yang harus diisi untuk diserahkan ke pendaftaran. Setelah pendaftaran nunggu di depan ruang praktek dan lapor ke nurse station untuk dapat nomor antrian.

Ruang tunggunya crowded, ga nyaman kursinya udah rusak-rusak, dan jarak antar baris kursi sempit bingit. Ada beberapa tv tapi cuma tayangin Daai TV (station tv punya Yayasan Tzu Chi). Gedungnya sendiri cukup baik, lumayan bersih lah. Cuma yang paling concern ya kursi tunggu itu, coba bisa diganti baru pasti lebih nyaman.

Setelah 2 minggu gusinya udah mulai menutup, tapi masih ngilu kalau gosok gigi. Tapi gw udah bisa makan segala. Kalau dibilangnya ga boleh makan keras-keras, gw udah makan kacang. Tapi masih pelan-pelan, dan ngunyah masih di sisi kanan.

Sekarang udah 1 bulan gusinya hampir menutup sempurna, masih ada celah dikit, masih bisa masuk makanan. Gw belum berani ngunyah full di kiri karena takut nyangkut makanan. Maunya ngunyah di kanan aja tapi lagi ada sariawan jadi ga bisa ngunyah di kanan. Hadeuh.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s