2017

I’m laying on my bed… Staring at the ceiling… In the middle of the night… Contemplating my life…

Or…

I just can’t sleep because I just wake up from my last sleep 12 hours earlier.

I did nothing all day except laying on bed watching tv so I don’t feel tired. Maybe that’s why I can’t sleep.

Or…

I’m not ready for work tomorrow so my body refuses sleeping as it means the end of the day. The end of my holiday.. Noooo…

*denial*

Gosh I’m so not ready for work!!! When did I ever ready for work? I found this “hard to sleep” syndrome happened every time a long holiday ends. It’s not an insomnia because I will fall asleep any minutes now after writing this.
So yeah, it’s not insomnia *another denial*

There you go my page 2 of 365. Or page 3 now since it’s past 00.00 already. I have to work in less than 8 hours from now. And I haven’t slept yet.

Welcome, my first office day in 2017. No, you are not welcomed.

Advertisements

Women’s Independence

I’m furious because my girl friend cancel an appointment that has been set up long time before, only because her boyfriend can’t pick her up. As simple as that. As if she has no feet. As if she’s 10 years old who can’t go anywhere by herself. In this big city. With various public transportation scattered all around the city.

I’m furious to find out that my fellow women still depend on men so bad that they can’t go anywhere if their men can’t pick them up.

I mean, I have a great man who’s willing to pick me up whenever he’s able. But in times when he’s busy or unavailable I can still go anywhere anytime by myself. I don’t understand why there are other women who can’t do that.

I understand if their men are worried if they go alone. My man are worried too if I go somewhere alone. But that doesn’t mean I can’t go anywhere without him. I always update my position and tell him when I’ve arrived so he doesn’t have to worry anymore. Just try to be independent in this thing, can you?

Okay the real reason I’m furious in not because of these women’s dependence in such a small thing, but because I have to reschedule not only this appointment but also others. Reschedule is tiring because many people are involved.

Back to women’s dependence, I just remember that there’s also a case when a woman rejected her friends invitation to hang out only because her boyfriend doesn’t want to come. This is a same dependent case. I mean, she was the one who was invited, boyfriend is +1, whether her boyfriend comes or not is not important. But she refuses to come because her boyfriend doesn’t want to come. I don’t know the reason, maybe she’s too lazy to use public transportation, or she doesn’t want to be separated without her boyfriend.

I don’t understand these kind of women.

Who would have known?

Who would have known that one year ago today, she would be gone forever? If i saw that coming, i would absolutely spend her last time together. But no one see that horrifying time coming. I could only see her face for the last time. A week after, I realize that we won’t have phone chit chat at night again. I lost not only a mother, but also my sharing friend, my best advisor, my biggest supporter in life, someone who understand me the most.

IMG_20140307_163430
Last vacation that I had with her. The picture wasn’t even taken properly.

That’s life. Life catches you at your lowest, unexpectedly. Yes, all things happen for a reason. Or many reasons.

Who would have known the reasons? Maybe in order that she won’t feel pain again? Maybe in order that her family would be freed from burden? Or maybe in order that her family would be stronger in life?

One thing I know for sure, I lived the last one year harder, sadder, tougher, and magically stronger too. I haven’t completely moved on from her going, but I survived this one year well. Or at least people see me as I’m okay.

I don’t like to share my weaknesses or vulnaribilities to other people. Crying, for me, is a sign of weakness that others must not see. Except my fiancé, the only exception.

Whatever the reasons are, I can conclude that it’s a fate. Even herself had known that, written in her will. That this is her fate, that this was meant to be, that we shouldn’t be sad.

We are trying mom, but it’s been hard. I miss you a lot. I lost badly. I’m looked okay from the outside, but inside there’s a huge deep hole that can’t be filled.

Again, who would have known?

Membuat E-Paspor – Cara dan Tips

E-Paspor kepanjangannya Elektronik Paspor. Artinya di Paspor tersebut ada chip yang bisa langsung di tap kalau di bandara jadi ga usah antri di bagian imigrasi (katanya). Gw belum pernah coba jadi belum tau 😛

Dan manfaat paling hits dari E-Paspor ini adalah bebas visa ke Jepang! Yey!

Sebenernya tetap harus daftar ke Kedutaan Jepang sih, jenis visanya disebut Visa Waiver. Yah, still better daripada harus apply2 visa kan.

Inilah alasan gw buat E-Paspor, I believe dalam 5 tahun ke depan gw pasti ke Jepang. Amin. Furthermore, I hope that in the next five years there will be more countries available for Visa Waiver. Maybe Korea? Australia? Amin. Harapanlah yang mengalahkan segalanya, termasuk kenyataan bahwa harga E-Paspor ini lebih mahal hampir dua kali lipat dari paspor biasa. Hehe. Biayanya Rp 655.000 + administrasi bank Rp 5.000 = Rp 660.000

By the way, despite its name Electronic Passport, we can’t apply E-Passport via electronic/online. Ironi. Kita harus datang langsung atau Walk-In. Dan, kantor imigrasi yang bisa menerbitkan E-Paspor baru DKI Jakarta, Surabaya dan Batam.

Gw berhasil membuat E-Paspor ini setelah tiga kali percobaan. Fiuhhhh. Kenapa sampe tiga kali?

Pertama : Di Kantor Imigrasi Jakarta Pusat – Gw datang kesiangan jam 06.30, kuota sudah habis (sehari cuma 100). Ya udahlah, udah dateng sekalian gw minta satpam ngecekin berkas gw deh. Eh ternyata gw salah bawa KK dong, yang kebawa KK lama yang NIK-nya beda dengan KTP. Gw harus minta KK baru dikirimin dari rumah.

Kedua : Di Kantor Imigrasi Jakarta Barat – Setelah menguatkan diri (karena males bangun pagi), dua bulan kemudian gw mencoba lagi di kantor imigrasi yang ini karena kata temen gw kuotanya lebih banyak. Gw sampe jam 05.15, dapet nomor antrian 14. Setelah nunggu hampir 3 jam, habis briefing dari petugas baru ketahuan ternyata gw harus pulang lagi karena gw ga punya Surat Rekomendasi Atasan/Perusahaan (I’ll explain this later). Padahal sebelumnya gw udah tanya temen gw yang udah bikin disini, katanya ga pake surat beginian ga apa-apa. Tapi sekarang udah diwajibkan.

Ketiga : Di Kantor Imigrasi Jakarta Barat – It is true that Third Attempt is a Charm.

Langkah-langkahnya sebagai berikut:

  1. Begitu datang langsung tulis nama di daftar antrian di kertas yang biasanya disiapkan oleh orang yang pertama dateng. (Hari itu gw dateng jam 5.15 dapet urutan 21)
  2. Pintu Gerbang dibuka sekitar jam 06.00, setengah jam sebelumnya biasanya ada tukang parkir yang ngatur-ngatur suruh baris per 10 orang. Jadi pas pintu gerbang dibuka udah gampang masuknya. Kalau orangnya ga baris entar ga kebagian nomor antrian lho.
  3. Setelah pintu gerbang dibuka, satpam akan memberi kita nomor antrian resmi di secarik kertas (Nomor antrian gw naik dikit jadi 19). Kita langsung masuk dan menunggu di dalam. Tapi yang mau makan dulu juga bisa, masih ada jeda waktu sekitar 1,5 jam.
  4. Pintu area pelayanan dibuka sekitar jam 07.30. Beberapa saat sebelumnya pasti ada pengarahan dari petugas mengenai syarat-syarat apa saja yang harus dibawa dan ada sesi tanya jawab. Kalau ada yang tertinggal boleh pulang dulu, tapi kalau baliknya nomor antrian sudah lewat harus ambil nomor antrian baru, dan pasti udah sampe 100-an jadi percuma.
    P_20160323_062111
    ruang tunggu pertama – tempat briefing

    Continue reading

Operasi Gigi Bungsu Kedua Kali (Bagian 2-Akhir)

Ternyata gw bener-bener lupa operasi gigi yang pertama gimana rasanya. Gw cuma ingat mulut gw mati rasa, sembari dokternya narik-narik gigi gw berusaha nyabut. Gw juga ingat gusinya masih berdarah selama beberapa jam setelah operasi.

Tapi setelah gw jalani operasi gigi yang kedua ini, gw baru tersadar. Man, how come I forget how does it feel? Gimana gw bisa lupa rasanya dibius di gusi.

Kali ini gigi gw yang mau dibuang ada 2. As I said before, gigi bungsu kiri bawah harus dibuang karena tidak tumbuh full, sedangkan gigi bungsu kiri atas yang tumbuh normal pun harus ikut dibuang karena bawahnya dibuang. Ga ada pasangannya, jadi ga ada gunanya dipertahankan.

Untuk gigi kiri bawah dioperasi, sedangkan gigi kiri atas dicabut biasa, tapi disebutnya cabut komplikasi. Ternyata cabutnya pun harus pake bius. Total gw dibius dengan cara DISUNTIK sebanyak empat atau lima kali. Gw ga inget jumlahnya, gw cuma inget rasa sakitnya. Sampai-sampai gw berdoa, Tuhan, tolong ini terakhir kalinya gw dioperasi apapun. Amin.

Yup, operasi gigi tuh biusnya dengan DISUNTIK. Di gusi. Di dinding mulut. Menusuk sampai ke jiwa. Lebay.

Oke, operasi kali ini entah kenapa bikin gw banyak recall memory. Dulu, waktu masih anak-anak, pertama kali gw ke dokter gigi buat cabut gigi dokternya pakai cara suntik bius juga. Waktu itu umur gw sekitar 6 tahun, dan menurut nyokap sejak saat itu gw jadi takut ke dokter gigi. Entah ya kenapa dokter itu melakukan suntik bius kepada anak-anak. Padahal setelahnya gw cabut gigi di dokter gigi lain bisa kok ga disuntik, cuma ditempel yang dingin-dingin gitu sampai gusinya mati rasa.

Btw untuk operasi gigi ga ada teknologinya kah yang memungkinkan dibius tanpa suntik?

Ga enaknya dokter gigi yang gw dapatkan waktu di RS Tzu Chi PIK adalah, menurut gw dokternya terlalu meremehkan operasi ini. Dokternya sambil bercanda ngobrol-ngobrol sama susternya, yang jadi ga fokus. Akibatnya waktu ekstraksi gigi gw akarnya patah, tertinggal, tambah lama lah prosesnya. Dokternya susah payah narik-narik akar yang tertinggal. *judul lagu baru : Akar Yang Tertinggal * *apa sih*

Nyebelinnya lagi, susternya keliling-keliling ruang praktek nyari alat apa gitu -yang diperlukan untuk operasi gigi gw- sambil nanya-nanya ke suster lain tapi ga ada yang tau.

Ruang prakteknya sebenarnya ukurannya besar, tapi disekat-sekat dengan partisi kain, jadi dalam 1 ruangan ada 3 tempat praktek.

Akibat susternya keliling-keliling itu, ludah gw terbengkalai ga disedot. Dokternya juga aneh, emangnya bisa kerja? Emangnya keliatan gitu ngerjain gigi kalau mulut gw dipenuhi ludah+darah? Gw berasa banget mulut gw penuh, dan karena ga bisa nelan, gw sampai ehem ehem dan pegang-pegang leher, baru dokternya nanya kenapa. Ya elah, mau ngomong juga susah kali, gw akhirnya jawab, keselek.

Sang dokter cuma jawab, oh, keselek. OH, KESELEK. Oh doank! Disedot kek dok ludahnya!

Continue reading

Operasi Gigi Bungsu Kedua Kali (Bagian 1)

Ini pengalaman kedua gw operasi pengangkatan gigi bungsu atau istilah kedokterannya odontectomy. Yang pertama kali itu dua tahun yang lalu di Bandung. Flashback sedikit, dulu waktu pertama kali numbuh gigi bungsu itu rasanya ga nyaman cenderung nyeri, jadi gw ke dokter gigi dan dikasih obat. Terus gw masih ingat waktu itu ada temen gw yang nanya kenapa gw minum obat, dan waktu gw jelasin gw numbuh gigi, dia kayaknya bingung gitu. Gw sampe ngejelasin kalau manusia tuh ada yang namanya gigi geraham bungsu, yang numbuhnya waktu kita udah dewasa, dan beda-beda tiap orang, ada yang numbuh ada yang ga sama sekali. Gw malah heran kalau temen gw ga tau, perasaan di sekolah udah diajarin deh yang namanya gigi geraham bungsu itu. Apa di sekolahnya temen gw ga diajarin atau dia-nya yang ga nyimak, entahlah. Gw jadi berpikir mungkin bukan temen gw doank yang ga tau, berarti banyak orang lain yang mungkin ga tau juga ya. Hmm.

Kembali ke masa sekarang, karena gw udah pengalaman dengan masalah gigi bungsu ini, jadi waktu giginya tumbuh gw biarin aja. Gw berharapnya sih dia bisa tumbuh full jadi ga perlu operasi-operasi segala. Soalnya ini gigi bungsu gw ke-3 yang numbuh, letaknya di kiri bawah. Dulu yang dioperasi itu gigi yang pertama, letaknya di kanan bawah. Setelah operasi itu, gigi ke-2 yang numbuh letaknya di kiri atas dan itu numbuh full kayak gigi normal lainnya. Jadi gw berharap gigi yang ke-3 ini bisa numbuh normal juga. Apa daya setelah numbuhnya lama (mungkin hampir setahun), belum juga numbuh full, malah ada celah antara gigi dan gusi yang jadi tempat nyangkutnya makanan. Terus waktu akhir tahun kemarin gigi tersebut sempat berdarah juga, barulah gw memutuskan untuk periksa ke dokter gigi. Setelah kepotong liburan, awal tahun barulah sempet ke dokter gigi. Proses ke dokter gigi pun repot karena gw kan di Jakarta belum pernah ke dokter gigi, biasanya ke dokter gigi tuh waktu pulkam ke Jambi.

Bingung mau ke dokter gigi yang mana, pengennya yang bagus tapi murah. Haha. Akhirnya karena ada rekomen temen, pulang kerja Senin, 4 Januari gw ke dokter gigi di Jl.Sumatera. Bentuknya kayak rumah biasa gitu, tapi setelah masuk ke dalam lumayan gede tempatnya ada resepsionisnya gitu. Tapi ternyata oh ternyata, dokternya cuma bisa pake perjanjian gitu, pas gw mau daftar dibilangnya hari Rabu sore jam 5. What? Ga bisalah orang udah urgent, giginya udah berasa ga enak agak nyeri, malah ngefek ke telinga jadi sering pengang gitu. Ujung-ujungnya ke dokter gigi yang deket kosan. Meskipun tempatnya sepi, rumahan gitu, dan gw pasien satu-satunya, tapi ruang prakteknya bagus juga dan besar. Pas dokternya masuk ke ruangan, dokternya cewek, dan ternyata pake daster. Hahaha. Keliatan banget dokternya kalau malam-malam nyantai, mungkin sambil nonton TV, buka praktek cuma ala kadarnya aja, kalau ada pasien ya syukur kalau ga ada ya sudah.

Dokternya tanya gw kenapa, terus gw bilang gigi bungsunya mulai ga enak gitu. Baru gw duduk di kursi periksa dan mangap bentar, dokternya langsung bilang, ini sih harus dibuang gigi bungsunya, ga ada tempat buat numbuh. Yah, kecewa deh gw harus operasi. Terus dokternya bilang, di sini bisa operasi, dokternya dokter bedah di RS Puri, tapi harus janjian dulu, adanya hari Rabu atau hari Sabtu. Langsung gw nanya dong, berapaan biayanya, dijawab 3,5 juta. Deng. Mahal bingit. Dokternya langsung ke mejanya nulis-nulis sesuatu, ternyata gw disuruh rontgen dulu, karena rontgen gw yang operasi dulu udah ga bisa dipake udah kelamaan, takutnya ada syarafnya berubah atau apalah gitu. Gw dikasih surat pengantar untuk rontgen di Bio Medika.

Gw selalu merasa awkward kalau ke dokter tuh pas proses bayarnya, nanya berapa duit. Soalnya dokter kan beda yah sama beli barang. Kalau beli barang kan harganya jelas langsung bayar. Kalau ke dokter tuh awkward gimana gitu. Haha. Tapi ternyata gw ga bayar biaya konsultasi alias gratis. Hehe. Intinya sih dokternya pengennya setelah gw rontgen gw balik lagi ke dia buat operasi itu, tapi gw ga berniat balik lagi lah, wong mahal gitu.

Malam itu juga gw langsung ke Bio Medika yang di Kedoya, tepatnya Jl.Arjuna Utara. Gedungnya besar dan bagus. Begitu masuk pintu langsung ruang tunggu yang menghadap ke pendaftaran. Ga terlalu ramai sih waktu itu sekitar 5 atau 6 orang. Gw langsung ke meja di sebelah pintu buat ambil nomor antrian, tapi di mesin nomor antrian-nya ga ada tombol yang bisa dipencet. Bingung kan, yang ada tombolnya cuma interkom di sebelahnya, masa iya mencet interkom. Ada tante-tante di sebelah gw juga sama bingungnya. Tiba-tiba satpamnya dari luar masuk terus kasitahu. Ternyata nomor antriannya udah diprint banyak tapi ditumpuk gitu di bawah mesinnya. Yah, meneketehe, ga jelas gitu ga ada pemberitahuannya.

Setelah ambil nomor nunggunya cukup lama.  Gw sampe pindah-pindah tempat duduk karena AC-nya dingin banget. Untungnya sepi jadi bisa pindah-pindah sesuka hati. Haha. Kursi tunggunya bagus, kayu panjang gitu mirip di gereja. Terus ada pohon natal di tengah yang cantik banget berlampu jadi gw foto-fotoin dulu.

P_20160104_194825
Pohon natal yang ga penting :

Tibalah giliran gw dipanggil buat pendaftaran. Selain isi form, tanda tangan, bayarnya ternyata langsung di situ juga, pantesan lama per orangnya. Untuk rontgen gigi panoramic dikenakan biaya Rp 150.000. Setelah proses pendaftaran dan pembayaran selesai masih harus nunggu lagi untuk dipanggil.

Beberapa saat kemudian gw pun dipanggil untuk naik ke lantai 2. Di lantai 2 pun gw masih nunggu lagi di depan ruangan rontgen nya. Akhirnya setelah pasien sebelumnya keluar, gw pun dipanggil. Gw udah prepare sebelum masuk dengan lepasin anting-anting. Terus setelah masuk petugasnya minta gw lepasin kacamata dan ikat rambut. Gw males buka karet rambut jadi gw nanya, karet rambutnya ga dibuka ga apa-apa yah, kan karet. Petugasnya jawab dibuka aja. Yo wes rambut lepek gw pun terurai. -__- Continue reading

Valentine’s day. Of Course.

It’s about midnight and it’s Sunday. It means tomorrow I have to work. Sigh. I’ve had Monday blues ever since I started to work. I don’t want weekend to be ended, especially today is Valentine’s day.

At first I’m not really excited about this year’s Valentine’s day. You know, after years of relationship Valentine seems to be another day in a year. But don’t get me wrong, we still celebrate our Valentine’s day every year. That’s not the reason. It’s just, Valentine on Sunday doesn’t fit. Maybe it’s just me. Maybe because I don’t like to work on the day after, Sunday has become a day that I don’t really like. So Valentine on Sunday makes me less excited.

But it turned out that this year’s Valentine’s day is the one that I shouldn’t forget. Above all Valentine’s day, this particular one that I was less excited about, is the one to remember.

Our typical Sunday starts with going to church. Nothing special, except I sat behind a kid, a very active one, that I couldn’t resist to look at him. At singing and praising time, he couldn’t stop jumping. When the pastor was preaching, he sat down and stood up alternately, played with his parents’ phone. I could focus on the preach at first. But after more than one hour, I lost my focus and got sleepy, so I was looking at the boy. He was so funny, he was faking a phone call using a card, placed that card on his ear, pretent to speak on phone, and walked back and forth. I was trying to show my boyfriend how cute he was, and I got scolded. He told me to focus with the preach. :p My bad.

So I did, I tried to focus with the preach, but I couldn’t. I got sleepy again. So I looked around to distract myself from being sleepy. That’s when I noticed something weird in my boyfriend’s jeans’ pocket. It’s looked like a heart shaped box. O.O He laughed and I laughed, but I tried to compose and pretent I didn’t see anything.

Finished with Sunday service, we went for lunch. We circled around the mall and decided to eat in my favorite pasta restaurant. I ordered Gnocchi chicken pesto and he ordered Seafood Marinara spaghetti. I wanted to order hot tea but it was too expensive for a tea, so we ordered Mandarin mojito instead.

So, while waiting for orders, he laughed, and he said he’s not a romantic person. There he went, took out the box and popped the question. O.O I was laughing and answered jokingly. I don’t even remember my answer right now, I think I said of course or something like that. He put on the ring on my finger and I put on his ring for him.

Well we’re not typical couple. He proposed at lunch, and the ambience wasn’t set, wasn’t romantic at all, and we laughed a lot. My first reaction after he put on the ring was, why is it gold? The ring that he chose is gold coloured, not white coloured as normal engagement ring. For me gold coloured jewelry looked so outdated. I found his ring design is also outdated and too old for his age. I complaint and complaint and he said he wanted to be not mainstream so he chose gold colour. He offered to have the rings pleated so they’ll be white. But all the time eating my lunch I kept thinking about the rings and how they are not the way I imagined.

Later of the day after taking nap, I realized that I just got engaged! And here I am bit*hing about the rings. I’m sorry honey, I know you put your best effort. I should be grateful instead of being bit*hy.

Yes I have imagined how my engagement should be, how the situation should be, how he should act, how my ring should be. But it has happened. It can only happen once. And I can’t control everything. And I can’t have all things the way I want it.

This Valentine’s day

I got no flowers

I got no chocolates

I got the best gift of all

I wish my mother is here so I could share the happy news. Share this big moment. But I’m sure she’s watching from above.

Happy Valentine’s Day peeps!