Kok susunya kecil?

Two weeks parenting journey

Ga terasa baby Emma udah mau 2 minggu. Sebagai orang tua baru, banyak hal-hal yang saya alami yang tidak terbayang sebelumnya. Contohnya, siapa yang menyangka menyusui lebih menyakitkan daripada melahirkan? Ga ada yang kasitau saya sebelumnya. (Saya melahirkan secara caesar, jadi saya ga tahu apakah yang melahirkan normal merasa seperti itu juga atau tidak 😁)

Operasi caesar sendiri lumayan bikin deg-degan, dari suntik bius di tulang belakang yang katanya sakit banget, terus saya belum pernah diinfus jadi bertanya-tanya apakah sakit, sampai pasang selang kateter untuk pipis. Malam sebelum operasi ketiga hal inilah yang terus membebani pikiran saya. Anehnya hal-hal yang saya cemaskan justru bisa saya jalani dengan mudah, justru ada hal-hal yang tidak terpikir yang membuat saya merasa sangat tidak nyaman.

Dari ketiga hal itu pasang infus menurut saya yang paling sakit. Suntik bius terasa beberapa kali tapi tidak sesakit pasang infus menurut saya, apalagi selesai suntik langsung terasa baal. Kemudian pasang selang kateter dilakukan di bawah anestesi jadi ga berasa.

Hal-hal tidak terduga antara lain saat operasi hampir selesai yaitu pembersihan sisa-sisa darah dll di rahim, saya merasa sakit yang luar biasa, kemudian sepertinya bius saya ditambah karena saya jatuh tertidur. Yang kedua adalah pelepasan selang kateter. Setelah selang kateter dilepas, rasa ingin pipis namun rasanya sulit untuk keluar. Benar-benar tidak menyenangkan. 😑

Selanjutnya tentu saja adalah menyusui. Pertama kali menyusui dilakukan di ruang rawat (for some reason I didn’t know saya tidak jadi diberikan IMD), suster langsung memberi baby Emma dan memposisikan untuk menyusui. Rasanya terharu namun setelahnya nyeri-nyeri gimana gitu. Ternyata saya mengalami cracked nipple atau puting pecah-pecah karena posisi perlekatan tidak tepat. Selanjutnya saya menyusui di PD sebelahnya dan kemudian bergantian kiri kanan. Akhirnya puting saya lecet sampai berdarah di keduanya. Semua suster dan dokter yang saya tanyakan mengatakan karena posisi perlekatan yang tidak tepat, ck, saya sudah tahu hal itu, yang saya ingin tahu adalah setelah lecet apa yang harus dilakukan.

Sarannya kurang lebih sama yaitu sebelum dan sesudah menyusui dioles ASi karena ASI mengandung antibiotik sehingga membantu penyembuhan. Kemudian semua keluarga dan teman-teman menyatakan emang wajar puting lecet di awal menyusui, sering-sering saja menyusui nanti juga sembuh. Namun kenyataannya tidak seindah itu, yang saya rasakan hingga hari keempat lecetnya tidak membaik malah semakin parah padahal saya rutin menyusui dan sudah mengoleskan ASI. Saya juga mencoba mengoleskan nipple cream Mothercare namun tidak tahan perihnya.

Sampai puncaknya di rumah pada hari keenam subuh-subuh saya tidak tahan lagi, setelah menyusui sambil menangis, suami saya menyarankan membeli susu formula saja. Saya semakin menangis karena merasa tidak berdaya, di satu sisi saya kasihan kalau anak saya harus diberi sufor, tapi di sisi lain saya benar-benar tidak sanggup untuk menyusui dengan rasa sakit luar biasa.

Saya sudah pernah mencoba untuk memompa ASI namun karena teknik saya tidak benar, atau karena tersumbat, ASI yang keluar hanya sedikit. Pada pagi hari yang sama saya mendatangi klinik laktasi sekalian kontrol di RS. Di situ saya mendapat breast massage karena ternyata PD saya bengkak dan terdapat benjolan penyumbatan ASI, pantas saja saya merasa nyeri selain nyeri karena lecet di puting. Setelah dari situ saya mendapat teknik memerah ASI yang benar, namun setelah dipraktekkan hasilnya hanya sedikit. Dengan terpaksa selama beberapa hari ke depan baby Emma ditunjang sufor, sampai puting saya sembuh. Seminggu kemudian puting saya sembuh saya mulai menyusui langsung namun PD saya kembali bengkak dan nyeri bahkan kulitnya kemerahan. Padahal saya sudah lumayan rajin pumping 2 jam sekali walau kadang terskip saat malam.

Duh rasanya frustrasi sekali, apa saya harus berhenti menyusui tapi kasihan anaknya. Menyusui salah tidak menyusui pun salah. Pumping bukan hal yang mudah karena perlu waktu sejam bagi saya, kurang tidur sudah pasti, waktu tidur kejar-kejaran dengan pumping dan feeding.

Untuk kedua kalinya saya mendatangi klinik laktasi dan disarankan lebih rajin pumping dan menyusui langsung. Baiklah 💪

Lanjutttt. Selain faktor internal di atas yang dialami sebagai ibu baru, tentu ada faktor eksternal yang menambah sedapnya bumbu kehidupan. Apalagi kalau bukan komentar nyinyir dari luar baik disengaja maupun tidak.

Setiap saya jelaskan kenapa saya memberi anak saya ASI campur sufor (ASI tidak cukup, puting lecet, dsb) selalu ada komentar yang menurut saya mengganggu.

1. “Kenapa ga menyusui sambil pumping? Adik saya bisa satu PD menyusui satunya pumping.” Maksudnya biar ASInya banyak. Ybs belum menikah.

–Dengan puting lecet susah sekali saya pumping dengan alat, selama beberapa hari saya memerah menggunakan tangan makanya lama. Apalagi menyusui langsung, kan saya sudah jelaskan putingnya lecet ga bisa menyusui langsung

2. “Emang gitu awal-awal menyusui pasti lecet. Saya dulu juga gitu.”

–Tidak harus begitu. Menyusui harusnya menyenangkan bagi ibu dan anak.

3. “Sy: Campur sufor krn puting lecet

Ibu2: (Dgn nada annoying) Hoo ga tahu dia… Kalo saya dlu msh hamil putingnya pijat2 pake alkohol

Sy: Ada kok saya pijat2 (pake bio oil)

Ibu2: Hamil brp bln

Sy: hmm dari 6 7 bln (ga tahu knp sy jwb begitu pdhl dari 3 4 bln sy sdh mulai pijat2)

Ibu2: Oo sudah terlambat itu. Sy dlu dr awal gosok pake arak”

–Hamilnya sudah selesai ngapain dibahas lagi apa yang harusnya dilakukan pas hamil

4. “Tante: Kamu ASI?

Sy: Iya

Tante: Kok susunya kecil?

Sy: (Tersenyum) Emang begini”

–Dalam hati : Emang menyusui susunya harus gede? Emang susu gede menjamin ASI banyak? Plis deh tante.

Nah begitulah duka2 saya selama 2 minggu ini menjadi ibu baru. Lucunya kebanyakan komentar nyinyir muncul dari sesama ibu. Mungkin dulu mereka juga digituin jadi balas dendam. 😂

Kalau sukanya ga usah disebutkan. Having our little bundle of joy is such a miracle that makes every struggle worth it.

Advertisements

Japan Babymoon Trip : Itinerary (part 2/4)

Nah kali ini saya akan mengupas lebih dalam tentang itinerary 9hari 9malam selama di Jepang. Saya bagi 2 post karena panjang banget.

Sejarah penyusunan itinerary sudah dimulai dari berbulan-bulan sebelum berangkat. Karena orangnya banyak maunya banyak jadi kudu pake meeting. Langkah pertama ditentuin dulu mau ke kota mana aja, terus masing2 orang kasihtau mau pergi dimana aja di kota tersebut. Kalau destinasinya banyak, di 1 kota dihabiskan 2 hari. Tapi kemarin kami sesuaikan juga dengan jadwal mekarnya bunga sakura. Jadi rute akhirnya adalah Tokyo-Mt.Fuji/Hakone-Osaka-Kyoto-Tokyo.
Ohya, pada akhirnya destination di itinerary tidak sepenuhnya terlaksana karena keterbatasan waktu dan jarak, jadi misalnya di itinerary ada 5 tujuan dalam 1 hari, yang kesampean paling cuma 3.

🚩 Day 1 – Haneda, Shinjuku
Dengan pesawat pagi, kami baru sampe di Haneda sekitar jam 4 sore. Sampe bandara langsung pergi ke konter khusus buat beli Tokyo Subway Pass buat dipake besok2nya. Kalau di Tokyo recommended pake Subway Pass ini karena kepake banget bisa keluar masuk subway dengan bebas. Untuk 24hr harganya 800 yen, untuk 48hr harganya 1200 yen.

Ohya untuk transportasi nanti saya pisah aja deh post nya, soalnya lumayan banyak. Haha. Transportasi digabung akomodasi aja.

Airport Transfer
Kebingungan pertama adalah naik apa ke Shinjuku (hotel dan apartemen kami letaknya di Shinjuku). Ada beberapa pilihan yaitu kereta atau limousine bus atau taxi. Sebelumnya sih saya udh prepare mau naik kereta karena paling murah sekitar 600yen, tapi temen saya maunya pake limousine bus karena repot bawa koper katanya. Single trip limousine bus 1230yen, tapi ada paket dengan subway pass jadi 48hr subway pass + 2x trip limousine bus cuma 3200 yen. Hitungannya limousine busnya diskon jd cuma 1000yen per trip. Busnya bersih dan pastinya nyaman, perjalanan ke Shinjuku memakan waktu sekitar 1 jam.

Sampe di Shinjuku kami masuk ke Shinjuku Station dan langsung bingung karena pertama rame banget dan kedua isinya toko-toko jadi kayak mall. Repot karena bawa-bawa koper akhirnya kami langsung menuju ke apartemen dan hotel masing-masing terus baru keluar lagi cari makan.

🚩Day 2 – Mengejar Sakura : Shinjuku Gyoen National Park, Tokyo Sky Tree, Ueno Park, Chidorigafuchi Park, Shibuya

Pagi-pagi langsung menuju Shinjuku Gyoen National Park untuk mencari sakura 🌸 tidak sia-sia karena masih banyak pohon sakura yang berbunga.

image

image

image

Taman ini sangat luas dan sangat bagus dengan aneka pepohonan dan ada danau juga, ada yang jual jajanan juga, pokoknya enak banget buat santai-santai dan menikmati alam. Tiket masuknya 200yen.

Continue reading

Japan Babymoon Trip : Preparation (part 1/4)

Akhirnya jalan-jalan ke Jepang kesampean juga! Saya udah pengen ke Jepang dari 2 atau 3 tahun lalu, karena udah hits banget di instagram kan. Karena satu dan lain hal akhirnya puji Tuhan kesampean juga berangkatnya di tahun 2018. Walaupun akhirnya sambil babymoon ga masalah sih, ga mengurangi keseruan jalan-jalannya juga 😁

Total lamanya kami (saya, suami dan 6 orang teman) di Jepang adalah 9 hari 9 malam. Destinasinya banyak, itinerary padat (akan saya sambung di next post). Untuk post ini akan membahas hal-hal apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum berangkat 💪

✈ Tiket pesawat
Yang pertama dibeli adalah tiket pesawat. Kami beli tiket pesawat dari 6 bulan sebelum berangkat waktu ada travel fair. Dengan maskapai Jepang, All Nippon Airways (ANA), penerbangan kurleb 7 jam ga pake transit (penting!) dapet harga pp 4.3 juta setelah dipotong cashback kartu kredit. Sebenernya harga ini masih kurang murah menurut saya, karena waktu travel fair Cathay Pasific harga yang ditawarkan adalah pp 3.9 juta setelah dipotong cashback kartu kredit. Sekarang emang promo2 travel fair gitu yang bikin murah cashback sih. Nah repotnya yang Cathay Pasific itu dalam sehari kuota cashback dibatasi jadi kalau mau kebagian kudu antri dari subuh. Hmm. Saat itu saya ga jadi ikut antri karena lagi sibuk prepare wedding. Haha. Kalau mau lebih murah lagi bisa cari promo Air Asia, pp 2.7 juta saja, tapi harus transit, belum termasuk bagasi, dan makan harus tambah biaya lagi.

📓 Visa
Untuk mengurus visa paling pas sekitar 1-2 bulan sebelumnya, karena masa berlaku visa hanya sekitar 3 bulan. Karena saya udah punya e-passport, jadi ga perlu urus visa lagi, tapi tetep perlu bikin visa waiver. Gampang banget prosesnya, kalau mau gratis bikinnya di kedutaan (sebelah plaza Indonesia), kalau di Japan Visa Application Center (di Lotte Avenue lt.4) dikenakan biaya sekitar 150rb kalau ga salah. Saya waktu itu datang ke kedutaan cuma serahin paspor sama form (bisa didonlod terus print sendiri bisa juga isi disana disediakan) terus ditinggal, besoknya saya balik lagi paspor saya sudah siap ada stiker visa waiver. Total serahin dan ambil ga sampe 5 menit di kedutaan karena sepi.
Kalau suami saya punyanya paspor biasa, akhirnya terpaksa urus visa di Japan Visa Application Center (bikin visa cuma bisa disini ga bisa di kedutaan lagi). Prosesnya juga gampang, cuma lebih banyak berkas2 yang harus disiapkan dan dikenakan biaya 300an ribu plus administrasi. Saya ga inget persisnya berapa karena bukan saya yang bayar 😆

Untuk lebih detil bisa cek website JVAC berikut.

Seinget saya berkas yang diperlukan adalah KTP, KK,Pasfoto (standar khusus visa Jepang), itinerary, fotokopi rekening koran 3 bln terakhir, dan isi form yang disediakan. Proses di JVAC juga tidak lama, maksimal 1jam mulai dari antri untuk diperiksa berkas sebelum masuk, kemudian masuk ambil nomor antrian dan menunggu dipanggil, setelah dipanggil serahkan berkas dan wawancara di loket, kemudian pindah ke loket untuk pembayaran, selesai deh. Prosesnya 3-4 hari kerja sebelum paspor siap diambil lagi.

Continue reading

Women’s Independence

I’m furious because my girl friend cancel an appointment that has been set up long time before, only because her boyfriend can’t pick her up. As simple as that. As if she has no feet. As if she’s 10 years old who can’t go anywhere by herself. In this big city. With various public transportation scattered all around the city.

I’m furious to find out that my fellow women still depend on men so bad that they can’t go anywhere if their men can’t pick them up.

I mean, I have a great man who’s willing to pick me up whenever he’s able. But in times when he’s busy or unavailable I can still go anywhere anytime by myself. I don’t understand why there are other women who can’t do that.

I understand if their men are worried if they go alone. My man are worried too if I go somewhere alone. But that doesn’t mean I can’t go anywhere without him. I always update my position and tell him when I’ve arrived so he doesn’t have to worry anymore. Just try to be independent in this thing, can you?

Okay the real reason I’m furious in not because of these women’s dependence in such a small thing, but because I have to reschedule not only this appointment but also others. Reschedule is tiring because many people are involved.

Back to women’s dependence, I just remember that there’s also a case when a woman rejected her friends invitation to hang out only because her boyfriend doesn’t want to come. This is a same dependent case. I mean, she was the one who was invited, boyfriend is +1, whether her boyfriend comes or not is not important. But she refuses to come because her boyfriend doesn’t want to come. I don’t know the reason, maybe she’s too lazy to use public transportation, or she doesn’t want to be separated without her boyfriend.

I don’t understand these kind of women.

Who would have known?

Who would have known that one year ago today, she would be gone forever? If i saw that coming, i would absolutely spend her last time together. But no one see that horrifying time coming. I could only see her face for the last time. A week after, I realize that we won’t have phone chit chat at night again. I lost not only a mother, but also my sharing friend, my best advisor, my biggest supporter in life, someone who understand me the most.

IMG_20140307_163430
Last vacation that I had with her. The picture wasn’t even taken properly.

That’s life. Life catches you at your lowest, unexpectedly. Yes, all things happen for a reason. Or many reasons.

Who would have known the reasons? Maybe in order that she won’t feel pain again? Maybe in order that her family would be freed from burden? Or maybe in order that her family would be stronger in life?

One thing I know for sure, I lived the last one year harder, sadder, tougher, and magically stronger too. I haven’t completely moved on from her going, but I survived this one year well. Or at least people see me as I’m okay.

I don’t like to share my weaknesses or vulnaribilities to other people. Crying, for me, is a sign of weakness that others must not see. Except my fiancé, the only exception.

Whatever the reasons are, I can conclude that it’s a fate. Even herself had known that, written in her will. That this is her fate, that this was meant to be, that we shouldn’t be sad.

We are trying mom, but it’s been hard. I miss you a lot. I lost badly. I’m looked okay from the outside, but inside there’s a huge deep hole that can’t be filled.

Again, who would have known?

Membuat E-Paspor – Cara dan Tips

E-Paspor kepanjangannya Elektronik Paspor. Artinya di Paspor tersebut ada chip yang bisa langsung di tap kalau di bandara jadi ga usah antri di bagian imigrasi (katanya). Gw belum pernah coba jadi belum tau 😛

Dan manfaat paling hits dari E-Paspor ini adalah bebas visa ke Jepang! Yey!

Sebenernya tetap harus daftar ke Kedutaan Jepang sih, jenis visanya disebut Visa Waiver. Yah, still better daripada harus apply2 visa kan.

Inilah alasan gw buat E-Paspor, I believe dalam 5 tahun ke depan gw pasti ke Jepang. Amin. Furthermore, I hope that in the next five years there will be more countries available for Visa Waiver. Maybe Korea? Australia? Amin. Harapanlah yang mengalahkan segalanya, termasuk kenyataan bahwa harga E-Paspor ini lebih mahal hampir dua kali lipat dari paspor biasa. Hehe. Biayanya Rp 655.000 + administrasi bank Rp 5.000 = Rp 660.000

By the way, despite its name Electronic Passport, we can’t apply E-Passport via electronic/online. Ironi. Kita harus datang langsung atau Walk-In. Dan, kantor imigrasi yang bisa menerbitkan E-Paspor baru DKI Jakarta, Surabaya dan Batam.

Gw berhasil membuat E-Paspor ini setelah tiga kali percobaan. Fiuhhhh. Kenapa sampe tiga kali?

Pertama : Di Kantor Imigrasi Jakarta Pusat – Gw datang kesiangan jam 06.30, kuota sudah habis (sehari cuma 100). Ya udahlah, udah dateng sekalian gw minta satpam ngecekin berkas gw deh. Eh ternyata gw salah bawa KK dong, yang kebawa KK lama yang NIK-nya beda dengan KTP. Gw harus minta KK baru dikirimin dari rumah.

Kedua : Di Kantor Imigrasi Jakarta Barat – Setelah menguatkan diri (karena males bangun pagi), dua bulan kemudian gw mencoba lagi di kantor imigrasi yang ini karena kata temen gw kuotanya lebih banyak. Gw sampe jam 05.15, dapet nomor antrian 14. Setelah nunggu hampir 3 jam, habis briefing dari petugas baru ketahuan ternyata gw harus pulang lagi karena gw ga punya Surat Rekomendasi Atasan/Perusahaan (I’ll explain this later). Padahal sebelumnya gw udah tanya temen gw yang udah bikin disini, katanya ga pake surat beginian ga apa-apa. Tapi sekarang udah diwajibkan.

Ketiga : Di Kantor Imigrasi Jakarta Barat – It is true that Third Attempt is a Charm.

Langkah-langkahnya sebagai berikut:

  1. Begitu datang langsung tulis nama di daftar antrian di kertas yang biasanya disiapkan oleh orang yang pertama dateng. (Hari itu gw dateng jam 5.15 dapet urutan 21)
  2. Pintu Gerbang dibuka sekitar jam 06.00, setengah jam sebelumnya biasanya ada tukang parkir yang ngatur-ngatur suruh baris per 10 orang. Jadi pas pintu gerbang dibuka udah gampang masuknya. Kalau orangnya ga baris entar ga kebagian nomor antrian lho.
  3. Setelah pintu gerbang dibuka, satpam akan memberi kita nomor antrian resmi di secarik kertas (Nomor antrian gw naik dikit jadi 19). Kita langsung masuk dan menunggu di dalam. Tapi yang mau makan dulu juga bisa, masih ada jeda waktu sekitar 1,5 jam.
  4. Pintu area pelayanan dibuka sekitar jam 07.30. Beberapa saat sebelumnya pasti ada pengarahan dari petugas mengenai syarat-syarat apa saja yang harus dibawa dan ada sesi tanya jawab. Kalau ada yang tertinggal boleh pulang dulu, tapi kalau baliknya nomor antrian sudah lewat harus ambil nomor antrian baru, dan pasti udah sampe 100-an jadi percuma.
    P_20160323_062111
    ruang tunggu pertama – tempat briefing

    Continue reading

Operasi Gigi Bungsu Kedua Kali (Bagian 2-Akhir)

Ternyata gw bener-bener lupa operasi gigi yang pertama gimana rasanya. Gw cuma ingat mulut gw mati rasa, sembari dokternya narik-narik gigi gw berusaha nyabut. Gw juga ingat gusinya masih berdarah selama beberapa jam setelah operasi.

Tapi setelah gw jalani operasi gigi yang kedua ini, gw baru tersadar. Man, how come I forget how does it feel? Gimana gw bisa lupa rasanya dibius di gusi.

Kali ini gigi gw yang mau dibuang ada 2. As I said before, gigi bungsu kiri bawah harus dibuang karena tidak tumbuh full, sedangkan gigi bungsu kiri atas yang tumbuh normal pun harus ikut dibuang karena bawahnya dibuang. Ga ada pasangannya, jadi ga ada gunanya dipertahankan.

Untuk gigi kiri bawah dioperasi, sedangkan gigi kiri atas dicabut biasa, tapi disebutnya cabut komplikasi. Ternyata cabutnya pun harus pake bius. Total gw dibius dengan cara DISUNTIK sebanyak empat atau lima kali. Gw ga inget jumlahnya, gw cuma inget rasa sakitnya. Sampai-sampai gw berdoa, Tuhan, tolong ini terakhir kalinya gw dioperasi apapun. Amin.

Yup, operasi gigi tuh biusnya dengan DISUNTIK. Di gusi. Di dinding mulut. Menusuk sampai ke jiwa. Lebay.

Oke, operasi kali ini entah kenapa bikin gw banyak recall memory. Dulu, waktu masih anak-anak, pertama kali gw ke dokter gigi buat cabut gigi dokternya pakai cara suntik bius juga. Waktu itu umur gw sekitar 6 tahun, dan menurut nyokap sejak saat itu gw jadi takut ke dokter gigi. Entah ya kenapa dokter itu melakukan suntik bius kepada anak-anak. Padahal setelahnya gw cabut gigi di dokter gigi lain bisa kok ga disuntik, cuma ditempel yang dingin-dingin gitu sampai gusinya mati rasa.

Btw untuk operasi gigi ga ada teknologinya kah yang memungkinkan dibius tanpa suntik?

Ga enaknya dokter gigi yang gw dapatkan waktu di RS Tzu Chi PIK adalah, menurut gw dokternya terlalu meremehkan operasi ini. Dokternya sambil bercanda ngobrol-ngobrol sama susternya, yang jadi ga fokus. Akibatnya waktu ekstraksi gigi gw akarnya patah, tertinggal, tambah lama lah prosesnya. Dokternya susah payah narik-narik akar yang tertinggal. *judul lagu baru : Akar Yang Tertinggal * *apa sih*

Nyebelinnya lagi, susternya keliling-keliling ruang praktek nyari alat apa gitu -yang diperlukan untuk operasi gigi gw- sambil nanya-nanya ke suster lain tapi ga ada yang tau.

Ruang prakteknya sebenarnya ukurannya besar, tapi disekat-sekat dengan partisi kain, jadi dalam 1 ruangan ada 3 tempat praktek.

Akibat susternya keliling-keliling itu, ludah gw terbengkalai ga disedot. Dokternya juga aneh, emangnya bisa kerja? Emangnya keliatan gitu ngerjain gigi kalau mulut gw dipenuhi ludah+darah? Gw berasa banget mulut gw penuh, dan karena ga bisa nelan, gw sampai ehem ehem dan pegang-pegang leher, baru dokternya nanya kenapa. Ya elah, mau ngomong juga susah kali, gw akhirnya jawab, keselek.

Sang dokter cuma jawab, oh, keselek. OH, KESELEK. Oh doank! Disedot kek dok ludahnya!

Continue reading